Tampilkan postingan dengan label SEJARAH LAMPUNG TUMBAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH LAMPUNG TUMBAI. Tampilkan semua postingan
Selasa, 12 Mei 2015
Jumat, 06 Maret 2015
ADAT KEBANDAKHAN LAMPUNG PESISIR
Menurut cerita
turun-temurun, nenek moyang orang Lampung Pesisir/Peminggir berasal dari Lemasa
Kepampang Tanoh Unggak atau lebih dikenal dengan Kerajaan Sekala Bekhak yang
terletak di lereng Gunung Pesagi.
Setelah kerajaan itu runtuh, mereka menyebar mencari tempat kehidupan yang layak bagi kelangsungan hidup keturunannya. Tempat yang mereka pilih adalah Muara sungai (Muakha) yang ada di tepi laut. Disana mereka mendirikan pemukiman baru dan membentuk sistem pemerintahan adat yang dikenal dengan Bandar (Bandakh).
Dalam sistem pemerintahan adat tersebut (Sebatin kebandakhan), dibagi dalam beberapa kelompok yaitu Suku Dilom (Gedung), Suku Kiri, Suku Kanan dan Suku Tanjakh (Tanjakh = Menyebar). Kepala adat sebatin kebandakhan bergelar Batin/Dalom/Pangeran/Sultan, tergantung lama berdirinya kesebatinan dan jumlah anak buah (jumlah sebatin bawahan).
Sebatin tersebut membawahi 4 suku (Dilom/Gedung, Kiri, Kanan dan Tanjakh) yang diberi gelar Raja (Khaja). Sedangkan seorang Raja didampingi oleh beberapa Raden (Khadin), Minak, Kimas dan Mas. Sedangkan untuk berdirinya kesebatinan baru (bawahan sebatin bandakh) yaitu berasal dari Suku Tanjakh. Suku Tanjakh merupakan suku yang jenjang permukimannya sudah menyebar kepedalaman (membuka lahan permukiman baru yang jauh dari pantai). Sehingga jika kita perhatinkan susunan jenjang permukiman masyarakat Lampung Pesisir akan berbentuk seperti cabang-cabang pohon yang dimulai dari muara sungai.
Kesebatinan yang berdiri didaerah pedalaman (jauh dari muara sungai) sebagian besar lebih muda umur kesebatinannya dari pada kesebatinan bandakh (sebatin bawahan). Mereka yang dipedalaman tidak lagi dikenal dengan Kesebatinan Bandakh, tetapi lebih dikenal dengan Kesebatinan Marga. Tetapi seiring berjalannya waktu pada jaman penjajahan Belanda, nama Kebandakhan sering diganti juga dengan nama Marga.
Sebagai contoh Kesebatinan Bandakh yaitu di daerah Cukuh Balak dan sekitarnya, dikenal dengan “Bandakh Lima” (terdapat 5 kesebatinan Badakh) yang terdiri dari Bandakh Limau, Bandakh Badak, Bandakh Putihdoh, Bandakh Pertiwi dan Bandakh Kelumbayan. Sebagian dari keturunannya menyebar ke daerah pedalaman seperti ke Talang Padang yang dikenal dengan nama “Marga Gunung Alip”; Bulok, Pardasuka, Kedondong, Way Lima dan Sebagian Gedong Tataan yang dikenal dengan nama “Kesatuan Adat Marga Way Lima”; dan Marga-marga lain di Punduh-Pidada dan Padang Cermin. Sehingga sampai saat ini didaerah marga tersebut dikenal nama Selimau, Sebadak, Seputih, Sepertiwi dan Sekelumbayan untuk mengingatkan asal usul mereka dari Cukuh Balak.
Setelah kerajaan itu runtuh, mereka menyebar mencari tempat kehidupan yang layak bagi kelangsungan hidup keturunannya. Tempat yang mereka pilih adalah Muara sungai (Muakha) yang ada di tepi laut. Disana mereka mendirikan pemukiman baru dan membentuk sistem pemerintahan adat yang dikenal dengan Bandar (Bandakh).
Dalam sistem pemerintahan adat tersebut (Sebatin kebandakhan), dibagi dalam beberapa kelompok yaitu Suku Dilom (Gedung), Suku Kiri, Suku Kanan dan Suku Tanjakh (Tanjakh = Menyebar). Kepala adat sebatin kebandakhan bergelar Batin/Dalom/Pangeran/Sultan, tergantung lama berdirinya kesebatinan dan jumlah anak buah (jumlah sebatin bawahan).
Sebatin tersebut membawahi 4 suku (Dilom/Gedung, Kiri, Kanan dan Tanjakh) yang diberi gelar Raja (Khaja). Sedangkan seorang Raja didampingi oleh beberapa Raden (Khadin), Minak, Kimas dan Mas. Sedangkan untuk berdirinya kesebatinan baru (bawahan sebatin bandakh) yaitu berasal dari Suku Tanjakh. Suku Tanjakh merupakan suku yang jenjang permukimannya sudah menyebar kepedalaman (membuka lahan permukiman baru yang jauh dari pantai). Sehingga jika kita perhatinkan susunan jenjang permukiman masyarakat Lampung Pesisir akan berbentuk seperti cabang-cabang pohon yang dimulai dari muara sungai.
Kesebatinan yang berdiri didaerah pedalaman (jauh dari muara sungai) sebagian besar lebih muda umur kesebatinannya dari pada kesebatinan bandakh (sebatin bawahan). Mereka yang dipedalaman tidak lagi dikenal dengan Kesebatinan Bandakh, tetapi lebih dikenal dengan Kesebatinan Marga. Tetapi seiring berjalannya waktu pada jaman penjajahan Belanda, nama Kebandakhan sering diganti juga dengan nama Marga.
Sebagai contoh Kesebatinan Bandakh yaitu di daerah Cukuh Balak dan sekitarnya, dikenal dengan “Bandakh Lima” (terdapat 5 kesebatinan Badakh) yang terdiri dari Bandakh Limau, Bandakh Badak, Bandakh Putihdoh, Bandakh Pertiwi dan Bandakh Kelumbayan. Sebagian dari keturunannya menyebar ke daerah pedalaman seperti ke Talang Padang yang dikenal dengan nama “Marga Gunung Alip”; Bulok, Pardasuka, Kedondong, Way Lima dan Sebagian Gedong Tataan yang dikenal dengan nama “Kesatuan Adat Marga Way Lima”; dan Marga-marga lain di Punduh-Pidada dan Padang Cermin. Sehingga sampai saat ini didaerah marga tersebut dikenal nama Selimau, Sebadak, Seputih, Sepertiwi dan Sekelumbayan untuk mengingatkan asal usul mereka dari Cukuh Balak.
SEJARAH PERKEMBANGAN HUKUM ADAT LAMPUNG PESISIR BANDAR LIMA - KECAMATAN CUKUH BALAK
I.
GEOGRAFIS
Di ujung selatan Sumatera, sepanjang pantainya terjal, diselang-selingi oleh lembah sempit yang dilingkari bukit-bukit, hijau penuh tanaman: cengkeh, dan beraneka pohon buah-buahan. Lautnya tenang bagai kaca, bak talam emas yang digelar bila sore tiba. Bukit-bukit itu nampak biru dari kejauhan. dan di bawah bukit-bukit itu sungai-sungai yang berliku, jernih airnya, subur tanahnya.
Di sanalah sekelompok manusia telah memilih tempat tinggal, hidup dengan anugerah Tuhan yang melimpah, tanah subur dengan musim buah-buah yang silih berganti. Mereka bercocok tanam dan bertani. Pada waktu-waktu senggang menanti panen, ada yang berdagang dan tak sedikit yang menjadi nelayan, memancing dan menjala. Dan Tuhan tak henti-hentinya mengucurkan rezeki; musim buah berganti musim cengkeh, lalu menyusul musim-musim: ikan, siput, rebon, udang dan cumi.
Kampung-kampung itu memanjang dari hilir ke mudik mengikuti lekuk-liku tepi-tepi sungai berlembah sempit, Kumpulan kampung-kampung itu berupa marga dan dari beberapa marga terciptalah satu pemerintahan Kecamatan.
Kecamatan ini telah berdiri sejak zaman Belanda “Kecamatan Cukuhbalak”. Batas-batas wilayahnya:
1. Sebelah barat berbatasan dengan Batubalai/wilayah Kecamatan Kotaagung.
2. Sebelah timur dengan Lengkukai / wilayah Kecamatan Padangcermin.
3. Sebelah selatan dengan lautanIndonesia dan sebuah pulau, Pulau
Tabuan yang masih termasuk wilayah Kecamatan Cukuhbalak.
4. Sebelah utara dengan Tanjungsiom batas kecamatan Pardasuka.
Wilayah kecamatan yang merupakan daerah marga ini terdiri dari beberapa kampung. Marga merupakan daerah adat yang dikepalai oleh Kepala Adat yang menguasai beberapa suku adat (sabatin), Sabatin dikepalai oleh Penyimbang Batin yang membawahii beberapa kelompok yang lebih kecil (suku), sedang kampung dikepalai oleh Kepala Kampung selaku pemerintah Republik Indonesia, di bawah Camat.
Dalam wilayah Kecamatan Cukuhbalak terdiri darilima 5 Marga:
1. Makhga Putih, sebagai ibukota Kecamatan Cukuhbalak terletak di Putihdoh. Marga putih terdiri dari 7 kampung: Putihdoh, Tanjungbetuah, Banjakhmanis, Pampangan, Kacamakhga, Sawangbalak, dan Kakhangbuah.
2. Makhga Pakhtiwi, terdiri dari 10 kampung, yaitu: Sukapadang, Kejadian Lom/Luah, Gedung, Banjakhnegekhi, Sukakhaja, Tanjungkhaja, Tanjungjati, Waikhilau dan Tengokh.
3. Makhga Kelumbayan, terdiri dari 7 kampung: Negekhikhatu, Pekonsusuk, Pekonunggak, Penyandingan, Paku, Napal, Lengkukai.
4. Makhga Badak, hanya terdiri dari satu kampung Badak, karena penduduknya banyak berpindah ke tempat lain (ke Wayawi Kedondong dll).
5. Makhga Limau, terdiri dari 7 kampung, yaitu; Kukhipan, Padangkhatu, Banjakhagung, Tegineneng, Pekonampai, Antakhbekhak, Tanjungsiom.
Jumlah penduduk wilayah ini dalam sensus sampai dengan tahun 1978, sekitar 30155 jiwa, terdiri dari 10288 jiwa laki-laki dewasa, dan 10124 jiwa perempuan dewasa, 4980 anak laki-laki, dan 4699 anak perempuan. Jumlah kampung sebanyak 32 buah membawahi 75 kepala suku yang terdiri dari 5388 kepala keluarga. Agama penduduk asli 100% beragama Islam.
Catatan: Sejak otonomi daerah digalakkan, beberapa marga dikembangkan menjadi Kecamatan, sehingga kini telah berdiri: Kecamatan Kelumbayan, Kecamatan Limau, Kecamatan Pertiwi dan Kecamatan Pulau, dan Kecamatan Cukuhbalak yang beribukota di Putihdoh.
II. SEJARAH
Asal-usul penduduk kecamatan Cukuhbalak serta sejarah berdirinya kampung-kampung di wilayah kebandaran Lima Kecamatan Cukuhbalak adalah diawali oleh menyebarnya para bangsawan dari reruntuhan Kerajaan Besar “Skalabkhak” yang terletak di sekitar Liwa Lampung Utara, terkenal dengan sebutan “Tanohunggak”. Kerajaan Skalabkhak yang besar di Lampung di samping Kerajaan Talangbawang itu belum didapat data yang pasti kapan dan bagaimana lenyapnya. Diperkirakan adalah akibat perluasan Kerajaan Sriwijaya yang berkedudukan diPalembang .
Bekas-bekas dan pengaruh kerajaan ini masih sangat berkesan di kalangan penduduk suku Lampung, karena kerajaan ini tidak lenyap begitu saja, melainkan berganti menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang berbentuk keratuan (kedatuan) sebagai sumber adat yang masih berlaku sampai sekarang di daerah Lampung.
Keratuan-keratuan yang terkenal antara lain:
1. Keratuan Puncak, ibukotanya sekitar Sangukpatcak di lingkungan ibukota Skalabkhak.
2. Keratuan Pugung, ibukotanya Pugung Mengandung Sukadana, Lampung Tengah, Lampung Selatan, dan sampai daerah-daerah sekitar Tanjungtua.
3. Keratuan Balau, ibokotanya terletak di Gunung Jualang di daerah Timur Kota Tanjungkarang.
4. Keratuan Pemanggilan Keratuan ini ibukotanya di sekitar hilirkota Martapura (sekarang
termasuk daerah/wilayah Propinsi Sumatera Selatan). Keturunannya tersebar di
sekitar Sungai Komering (Sumatera Selatan), Krue, Liwa, dan sekitarnya (Lampung
Barat), Teluk Semangka (Tenggamus), Telukbetung, Kalianda (Lampung Selatan).
Meskipun keturunannya tersebar dan terpencar-pencar namun mempunyai satu rumpun bahasa yaitu bahasa Lampung Pesisir. sebab itu, ada persamaan antara bahasa Komering dan bahasa Lampung Pesisir utara di Krue dan sekitarnya serta Lampung Pesisir selatan di wilayah Lampung Selatan dan sekitarnya.
Dilihat dari sejarahnya, Cukuhbalak termasuk Keratuan Pemanggilan karena terletak di daerah Teluk Semangka, begitu juga bahasanya memakai bahasa Lampung Pesisir (Lampung Pesesekh).
Dalam Kecamatan Cukuhbalak terdapatlima
Kebandaran terkenal dengan sebutan “Pesesekhlima” atau “Bandakhlima” karena
kebandaran ini berjumlah Lima
dan terletak di pesisir (di pantai lautan), yaitu:
A. MAKHGA PUTIH
Marga Putih, terdiri dua kebandaran yaitu: Kebandaran Putihdoh, dan Kebandaran Putihunggak. Putihdoh terdiri dari 7 sabatin (tiap-tiap sabatin
mempunyai pemerintahan dan hak otonom untuk mengatur kepentingan lingkungan sendiri), yaitu: Sabatin Kedaloman (Bandakh), Pekontengah, Gedung, dan Mandawasa. Sedang Putihunggak terdiri dari Sabatin: Tanjungbetuah, Banjakhmanis, dan Bandakhunggak.
Asal Marga Putihdoh ini ialah keturunan bangsawan Kabuai Mikhadatu, Skalabkhak. Yang mula-mula datang ke Putih ialah 5 saudara, yaitu:
1. Dalom Pamotokh Jagad menurunkan Pangeran Sultan Makhga selaku Kepala Adat Kebandakhan Putih.
2. Minak Sinahu menurunkan Panyimbang Suku (Luah Lawang).
3. Khaja Singganung menurunkan Raja Mangku Bandakh.
4. Tapak Gubang menurunkan Bintang Padoman
5. Tedung Pambosokh menurunkan Minak Bangsawan.
Ketikalima
saudara ini tiba di Putih dan berdiam beberapa lamanya, seorang dari mereka
ialah “Dalom Pamotokh Jagad” yang terkenal dengan panggilan Lanang Akuan
meninggalkan Putih menuju Kalianda guna mencari tempat yang lebih baik. Konon
Lanang Akuan ini mempunyai keberanian dan kesaktian yang melebihi
saudara-saudaranya yang lain. Dapat diperkirakan kesaktian mereka itu menurut
riwayat bahwa “Minak Sinahu” keturunan Luah Lawang dapat menyeberang ke Pulau
Tabuan hanya dengan selembar kain putih separo diduduki dan separo lagi sebagai
layar dengan rasa yakin yang mendalam mengucap “Basmalah”.
Maka ketika kampung Putih yang masih sepi ini diserang oleh bajak-bajak laut (bajau), sehingga ada sebahagian penduduk menghindari bajau ini dengan berpindah ke pedalaman lebih jauh dari pantai, maka jadilah kampung-kampung Tanjungbetuah, Banjakhmanis, dan lain-lain. Berkali-berkali bajak laut itu menyerang dan merampas harta-harta penduduk di sepanjang pantai-pantai yang masih berpenduduk sepi itu.
Bajak-bajak itu diperkirakan bersamaan dengan datangnya Belanda keIndonesia
sekitar tahun 1682, karena pada watu itu banyak perampok (perompak) sebagai
bajak laut atau lanum yaitu anak buah Sultan Iskandar, tapi dihancurkan oleh
Belanda Tahun 1704. Mungkin juga adalah suku Raas yakni pelaut-pelaut dari
kepulauan Mentawai, atau suku Bugis dari Sulawesi .
Karena serangan-serangan bajak laut yang berkali-kali itu maka 4 saudara yang masih tinggal di Putih bersepakat untuk memanggil Dalom Pamotokh Jagat atau Lanang Akuan yang berada di Kalianda untuk kembali ke Putih guna mempertahankan serangan dari para bajau itu.
Mereka juga sepakat untuk mengangkat Dalom Pamotokh Jagad atau Lanang Akuan untuk menjadi pimpinan adat (Kepala Adat) di Kebandakhan Putih. Dia setelah dibujuk, datang ke Putih dengan membawa pedang terhunus sedang sarung pedang itu masih ditinggal di Kalianda. Hal ini konon, yang membuktikan adanya persamaan sejarah antara keturunan Pamotokh Jagad di Kalianda dan di Putih.
Kesepakatan 4 saudara Pamotokh Jagad beserta keputusan sidang makhga oleh beberapa sabatin di lingkungan Kebandakhan Putih untuk mengangkatnya sebagai kepala adat, setelah ia dapat mengalahkan bajau-bajau itu tidaklah disambutnya dengan serta merta, melainkan ia merasa keberatan. Alasannya bahwa dalam pemerintahan itu memerlukan beberapa persyaratan yang belum ia miliki, yaitu: rumah, harta, dan isteri. Keempat saudaranya itu menyanggupi untuk memenuhi kebutuhannya itu, maka ia menetaplah di Putih sebagai Kepala Adat Kebandakhan Putih yang membawahi beberapa sabatin.
1. Sabatin Kedaloman Bandakh
Keturunan Pamotokh Jagad mempunyai kekuatan ke dalam, dalam pemerintahan lingkungan sendiri yang disebut “Sabatin Kedaloman Bandakh.” Sedang kekuatan pemerintahan keluar, kekuasaan memerintah (menguasai) seluruh kesabatinan di lingkungan Kebandakhan Putih.
Sampai dengan ditulisnya “Tulisan” ini pemegang pemerintahan Bandakh ialah Haji Bokhori Gelar Pangeran Sultan Makhga, yaitu deperkirakan keturunan (generasi) ke-12.
Keturunan Kedaloman Bandakh Keturunan Pamotokh Jagad pada gnerasi ke 2 – 4 tidak terdapat, dan untuk selanjutnya keturunan, 5 – 11 sbb:
1. Dalom Pamotokh Jagat
2. –
3. –
4. –
5. Kakhya Singadeda
6. Kakhya Singadega
7. Antowijaya
8. Kakhya Bangsakhatu
9. Batin Jayakrama
10. Pangikhan Syah Bandakh
11. Pangikhan Sultan Makhga
Keturunan Minak Sinahu (Luah Lawang)
1. Minak Sinahu
2. Raja Pangulihan Tuha
3. Kakhuhun
4. Raja Pangulihan Muda
5. Bangsa Alam
6. Minak Lanang
7. Minak Pukhba (H.A. Khauf)
8. K.H. M Yusuf
9. H. Abd. Mu’in
10. Khaja Pangulihan III
11. Khaja Simbangan
Anggota marga yang masih dalam naungan Kebandakhan Putih ini tersebar di Waylima, Pulau Tabuan dll.
Dalam pemerintahan adat ini terdapat pembagian kedudukan, fungsi dan tugas masing-masing. Sebatin Kedaloman Bandakh terdiri dari:
Suku dillom (dalam Istana)
1. Khaja Indra (Dahlan)
2. Khaja Mangkuta Alam (H. Mahmud)
3. Khadin Jaga Mulia
4. Khaja Inti Kesuma
5. Khaja Nukhsiwan (H. Rahim)
Suku Kiri
1. Khaja Simbangan (H. Makmun)
Suku Kanan
1. Khaja Mangku Bandakh (Yunus)
2. Khaja Kemala (M. Rasyid)
3. Khadin Setia (H. Muslim)
2. Sabatin Gedung
Keturunan dari penyimbang Batin Gedung ini berasal dari Lemasa Kepampang atau Tanohunggak, Skalabkhak, yaitu dari Kabuai Samenguk Tamba Kukha. Kesebatinan Gedung ini diperkirakan sejak tua-tuanya lebih dari dulu dari keturunan Kedaloman, tapi menurut keterangan dari kepala Penyimbang Batin Gedung ini baru 9 (sembilan keturunan), hal ini boleh jadi karena hitungan generasi (keturunan antara satu dengan yang lainnya) tidak sama.
Susunan Pemerintahan Adat Sabatin Gedung:
1. Kepala Panyimbang Batin: Dalom Pangikhan (H. Abu amin)
2. Suku Kiri: Khaja Kesuma (H. Zaenuddin)
3. Suku Kanan: Khaja Mangku Alam (H. Abd. Mutthalib)
3. Sabatin Pekontengah
Asal usul kesabatinan Pekontengah ini sama dengan keturunan Gedung, yaitu Kabuai Samenguk Tamba Kukha, Tanohunggak atau Skalabkhak. Sebelum sampai di Putih terlebih dahulu mampir di Sanggi (Kepaksian Sanggi Kotaagung). Yang mula-mula datang ke Putih ialah Khaja Samak dan isterinya beserta beberapa punggawa lainnya. Diperkirakan sudah 9 keturunan, sedang Pemangku jabatan “Penyimbang Batin Pekontengah sekarang ini, ialah Haji Djamauddin gelar Dalom Bangsa Khatu.”
Susunan Pemerintahan Adat Sabatin Pekontengah :
1. Kepala Panyimbang Batin: Dalom Bangsa Khatu. (H. Jamauddin)
2. Suku Kiri: Khaja Setia (Pulau Kakhangbuah), Khaja Bangsa Saka (Pulau Kakhangbuah).
3. Suku Kanan: Khaja Sepulah (H. Marzuki), Khaja Simbangan (Khuzairin)
4. Sabatin Mandawasa
Kesabatinan Mandawasa baru berdiri sekitar dua keturunan yang resmi diangkat oleh Pangikhan Bandakh. Asal usulnya tidak diperoleh data yang pasti, kemungkinan besar adalah pecahan dari Bandakh. Sabatin pertama ialah Batin Mangunangan (Haji Bashri) dan Pejabat sabatin sekarang ini ialah Batin Junjungan (Haji Damanhuri).
Susunan Pemerintahan Adat Sabatin Mandawasa :
1. Kepala Panyimbang Batin: Batin Junjungan
2. Suku Kiri: Khadin Sampukhna Jaya (Saleh)
3. Suku Kanan: Khadin Bangsa Khaja (Tirmizi)
5. Sabatin Tanjungbatuah
Asal keturunannya adalah Muakha Tanumbang Skalabkhak, Kabuai Semenguk Mikhadatu sama dengan keturunan Sabatin Kedaloman Bandakh. Yang mula-mula datang ke Putih (Tanjung Betuah) ialah 3 saudara:
1. Khaja Ngaliang Jaman menurunkan Pangikhan Pakhdasuka (Kecamatan Pakhdasuka), yaitu terletak sekitar 35 km dari Putih.
2. Makhgi Kesuma yaitu menurunkan Khaja Paksi (M. Syarifuddin) Tanjungbetuah.
3. Sang Liwat Agung, menurunkan Dalom Niti Negakha Kepala Adat Panyimbang Batin Tanjungbetuah. Sang Liwat Agung pergi ke kajenong (Jenong = Nama), untuk untuk memohon pengangkatan nama dari Kesultanan Banten. Dalam perjanjian dengan ketiga saudara di atas tidak bisa dibentuk sabatin Tanjungbetuah lain jika masih dalam satu kampung. Keluarga besar Sabatin Tanjungbetuah ini tersebar di WayLima, Pardasuka dan Gisting.
Seseorang yang termasuk keluarga Bangsawan dari Sabatin Tanjungbetuah ini bernama Tenggekh Dalom pergi ke mudik sekitar 2 kilo meter dari Tanjungbetuah, maka ia mendirikan satu kampung Banjakhmanis dan terciptalah satu Sabatin lagi yaitu Sabatin Banjakhmanis. Sedang sebelumnya terlebih dahulu berdiri Bandakh unggak di kampung Pampangan sekitar 6 km ke ulu dari Putihdoh.
Dikabarkan Bandakhunggak adalah juga berasal dari keturunan Sabatin Tanjungbetuah ini. Tapi karena akibat perpindah-pindahan penduduk maka Bandakhunggak sekarang hanya terdengar namanya, tinggal bekasnya saja, sedang pemerintahannya tidak ada. Perpindah-perpindahan penduduk Bandakhunggak konon ada yang ke Waylima dan mendirikan kampung dengan nama asalnya yaitu Pampangan, yang kini masuk Kecamatan Waylima-Kedondong.
Perkembangan Sabatin Tanjungbetuah ini makin lama tidak semakin maju (luas) melainkan semakin mundur dan menyempit. karena sebab-sebab antara lain:
1. Serangan-serangan bajau (bajak laut) yang senantiasa datang, tidak bisa di tangkap, menyebabkan berpindahnya penduduk ke mudik yang lebih jauh dari pantai.
2. Adanya suatu pembunuhan dari warga Tanjungbetuah bernama Anto Wijaya terhadap seorang penduduk kampung Putihdoh, yang dijatuhi hukuman diyat (denda atau ganti rugi), yaitu berupa tanah (sawah) milik warga Tanjungbetuah kepada keluarga yang dibunuh.
3. Tidak adanya pembinaan yang mantap terhadap anak buah sehingga banyak keturunan dari Sabatin ini yang berpindah Sabatin.
4. Adanya peraturan (perjanjian) yang tidak membolehkan berdirinya sabatin lain jika masih dalam satu kampung.
5. Perpindahan-pindahan penduduk karena adanya bajau dan meletusnya Gunung Krakatau sekitar tahun 1888, sehingga laut melonjak ke darat dan mengakibatkan abu tebal yang menghambat tumbuhnya tanaman pada beberapa tahun lamanya.
Perpindah-perpindahan itu antara lain: ke Tanjungkakhta, Kububatu, Tanjungrusia, Waykepayang, Pampangan, Waylayap (Kecamatan Waylima-Kedondong),Gisting, Kotadalom (Kecamatan Talang Padang).
Diperkirakan keturunan Sabatin Tanjungbetuah ini sekitar 12 s/d 13 keturunan. Sedang Sabatin Banjarmanis tidak diperoleh keterangan secara mendetail, hanya menurut keterangan Kepala Panyimbang Batin Tanjungbetuah adalah pecahan dari Tanjungbetuah. Namun sebahagian dari penduduk Banjakhmanis ini masih ikut Sabatin Gedung Putihdoh.
Susunan Pemerintahan Adat Sabatin Tanjungbetuah :
1. Kepala Panyimbang Batin: Dalom Nitinegara (Zubaidi)
2. Suku Kiri: Raja Wijaya (Masuni)
3. Suku Kanan: Raja Paksi A. Syarifuddin)
Keturunan Sabatin Tanjungbetuah sekarang ini tidak diperoleh keterangan yang pasti karena alasan catatan hilang, dikatakan sudah 28 keturunan, tapi keterangan ini meragukan karena kedatangan para bangsawan pendahulu itu ke Putih hampir bersamaan waktunya. Menurut keterangan dari Margi Kesuma keturunan yang ke-2, terdapat catatan dengan tulisan Lampung sebagai berikut:
1. Makhgi Kesuma
2. Adipati Sungsang Khuma
3. Ki Agung
4. Panengon Tanda Nenga
5. Khadin Makhgi
6. Kimmas Tanda Negakha
7. Khaya Besakh
8. Khadin Kutanegakha
9. Khadin Besakh
10. H. M. Said
11. Khaja Singadipati
12. Khaja Kusuma
13. Khaja Paksi
Maka diperkirakan keturunan Sabatin Tanjungbetuah ini sekitar 12 -13 generasi.
B. MAKHGA PAKHTIWI
Marga Pakhtiwi ini mempunyai 2 kebandakhan, yaitu:
1. Bandakhunggak
2. Bandakhdoh.
Bandakhunggak terdiri dari beberapa sabatin, yaitu: Sukakhaja, Kejadian Lom, Kejadian Luah, Gedung, Sukadana, dan Banjakhnegekhi.
Bandakhdoh terdri dari beberapa sabatin, yaitu: Tanjungjati, Tanjungkhaja, Sukapadang, dan Waykhilau. Kebandakhandoh belum diperoleh data tentang asal-usulnya. Sedangkan kebandakhanunggak berasal dari Tanohunggak Skalabkhak. Yang mula-mula datang ke Pakhtiwi tua-tua mereka ialah Das Dipati, Kabuai Sakha. Kini sudah 12 ketururunan. Sedang yang memegang pemerintahan adat sekarang ini ialah Haji Ahmad Syaikhu gelar Ratu Bakhlian keturunan yang kesebelas.
Keturunan dari Bedas Dipati tersebut sebagia berikut:
1. Bedas Dipati
2. Kesayih
3. MasChu
4. Khadin Unang
5. Kakhya Unang Negakha
6. Minak Unang
7. Khaja Pukhba
8. Khaja Nitinegakha
9. Batin Zakaria
10. Kakhya Unang Negkhakha
11. Ratu Bakhlian (H. Ahmad Syaikhu)
12. M.Maulana Muhammad Iqbal
C. MAKHGA BADAK
Asal mula keturunan Makhga Badak ini ialah Tanohunggak, Skalabkhak, dari Kabuai SINDI Krue Utara (Olokpandan).
Tua-tua mereka mempunyai 2 saudara:
1. Yang tua Buai Bintang di Krue Lampung Utara.
2. Yang muda Buai Tengklek pergi ke daerah Teluk Semangka yaitu ada 3 saudara:
- Khaja di Bandakh (Badak)
- Batin Pankgikhan di Way Awi (Kecamatan Waylima Kedondong)
- Panjukhit Agung di Tanjung Agung (Way Awi).
Karena para bangsawan ini sifatnya mencari tempat yang baik dan luas untuk masa depan anak keturunannya, maka kampung Badak yang dianggap kurang memenuhi syarat lagi sempit itu ditinggalkan oleh sebagian besar penududuknya. Perpindahan itu berjalan sejak satu sampai dua abad yang lalu. Di rentang masa selama itu menyebabkan anak keturunan yang berada di tempat yang lebih maju seakan-akan tiada mengakui asal-muasal mereka dari Kebandakhan Badak.
Faktor-faktor yang menyebabkan perpindahan itu selain karena tanahnya sempit juga karena terjadi peristiwa meletusnya Gunung Krakatau yang menyebabkan terjadinya tsunami, air laut pasang naik ke darat. Beberapa tahun juga abu tebal masih menyelimuti tanah, yang akibatnya tidak bisa ditanami.
Perpindahan-perpindahan secara spontan juga masih terjadi, karena akibat sukarnya hubungan transportasi kekota .
Memang bertahun-tahun sebelum Orde Baru, belum ada akses jalan darat, yang
mungkin kurang mendapat perhatian dari pemerintah.
Wilayah Makhga Badak yang berkembang menjadi beberapa Sabatin itu terletak di lain kecamatan di antaranya di Kecamatan Kedondong dan Waylima.
Sudah berapa keturunan Makhga ini, belumlah dapat diketahui secara pasti, namun menurut catatan dalam permintaan tanah kepada Jonjom diperoleh secara beli adalah pada tahun: sapeku pak likokh (atau pada tahun 1024). Agaknya keterangan ini meragukan karena berdirinya pemerintahan Sultan Hasanuddin sekitar abad ke 16 (enam belas = 1527). Namun dari sudut arti Badak berarti tua (Balak) karena tanahnya tua.
Pemerintahan Adat Makhga Badak menyebar ke pedalaman menjauhi pantai dan mendirikan pemerintahan adat sediri, di antaranya:
1. Batin Pangikhan di Pekondoh Wayawi
2. Dalom... Tanjungagung, Wayawi
3. Batin Paksi Wayawi
4. Batin Singa Makhga, Gedung Dalom Awayawi
5. Batin Panji Pekondoh, Wayawi
6. Batin Kemala Tanjungkhaja Wayawi
D. MAKHGA LIMAU
Asal Makhga Limau adalah Lamasa Kapampang, Skalabkhak. Perjalanan ke Limau melalui Krue, Waykanan, Waykhatai. Yang mula-mula datang ke Limau adalah Pangikhan Khaja Bungsu Sakti Dewa. Ia mempunyai 2 saudara, yaitu:
1. Pangikhan Kakhai Handak di Bengkulu (Propinsi Bengkulu)
2. Pangikhan Si Agul-Agul Pugungtampak (Krue Utara).
Keturunan Pangikhan Khaja Bungsu Sakti Dewa ini sampai sekarang sudah 12 genarasi. Karena book (catatan sejarahnya) terbakar dalam peristiwa kebakaran dua kali, maka yang sempat diingat hanya 7 keturunan, yaitu:
1. Pangikhan Khaja Bungsu Sakti Dewa
2. Lansak Batu.
3. Tambak Bata/Waykhatai
4. Dipati Anom
5. KHaja Paksi
6. Pangikhan Bandakhnegakha
7. Sultan Pangikhan Adat (Bunyana).
Kebandakhan ini terdiri dari 4 Panyimbang Batin, Kiri: Gununghaji, Tegineneng dan kanan Padangmanis, Sukanegekhi.
E. MAKHGA KELUMBAYAN
MaKHga Kelumbayan terdiri dari beberapa sabatin antara lain: Negekhi Kelumbayan dan Panyandingan. Keturunan negekhi Kelumbayan belum diperoleh keterangan, sedang keturunan dari Sabatin Panyandingan ialah: Kabuai Gagili, Skalabkhak, termasuk Marga Balau. Mereka mulanya datang ke Padada (Umbulan Pagokh), kemudian ke Napal. Setelah itu ke Kelumbayan. Yang mula-mula datang ialah: Tuan Khaja Akuan dan Khadin Pamuka. Sampai sekarang sudah 8 generasi, yaitu:
1. Khaja Ngukhi Ali
2. Kakhya Raksa Jaya
3. Khaja Timur (Batin Pamuka)
4. M. Ali
5. Kakhya Laksamana
6. Batin Khaja Intan
7. Pangikhan Jaya Sampurna (H. Azhari)
8. Pangeran Pimpinan Makhga (Tamrin).
III. PERPINDAHAN (HIJRAH)
Menurut data yang penulis kumpulkan bahwa kebanyakan penduduk Kebandakhanlima Cukuhbalak telah berpindah ke beberapa daerah yang kini telah berkembang menjadi beberapa kecamatan. Perpindahan itu membawa nama kampung dan juga membawa peraturan adat, bahkan di antaranya ada yang masih tunduk pada pemerintahan adat Kebandakahnlima. Bukti-bukti perpindahan itu antara lain:
1. Adanya nama-nama kampung yang sama dengan daerah asalnya, misalnya: Wayawi, di Banjar Manis – Wayawi di Kedondong.
2. Pampangan di Putih – Pampangan di Waylima.
3. Banjakhnegekhi di Pakhtiwi, di Limau dan Banjakhnegekhi di Waylima.
4. Pardasuka di Putihdoh – dan Pardasuka di Kecamatan Pardasuka,
Sekarang Pardasuka di Putih itu hanya tinggal bekasnya saja yaitu sudah menjadi hutan dan tanaman keras, karena penduduknya habis berpindah. Sejak dua dasawarsa terakhir di tempat ini telah didirikan SMP Negeri dan PLN serta mulai banyak didirikan pemukiman penduduk.
Sebab-sebab perpindahan antara lain:
1. Meletusnya Gunung Krakatau, yang mengakibatkan melonjaknya air laut ke darat (tsunami) dan abu tebal masih menyelimuti tanah pertanian, sawah, sehingga beberapa lama tak bisa ditanami.
2. Situasi tanah pertanian yang tidak memenuhi kebutuhan penduduk, terutama tanah pesawahan, karena daerah ini berbukit-bukit.
3. Perhatian Pemerintah yang kurang, terutama terhadap pembangunan perhubungan (transportasi) jalan darat yang tidak bisa dilalui kendaraan, begitu juga komunikasi dan sarana pendidikkan, sehingga banyak di antara penduduk yang berpindah ke daerah-daerah dekat jalan raya.
4. Perpindahan juga terjadi karena perkawinan, sekolah, menjadi pegawai dll.
Di ujung selatan Sumatera, sepanjang pantainya terjal, diselang-selingi oleh lembah sempit yang dilingkari bukit-bukit, hijau penuh tanaman: cengkeh, dan beraneka pohon buah-buahan. Lautnya tenang bagai kaca, bak talam emas yang digelar bila sore tiba. Bukit-bukit itu nampak biru dari kejauhan. dan di bawah bukit-bukit itu sungai-sungai yang berliku, jernih airnya, subur tanahnya.
Di sanalah sekelompok manusia telah memilih tempat tinggal, hidup dengan anugerah Tuhan yang melimpah, tanah subur dengan musim buah-buah yang silih berganti. Mereka bercocok tanam dan bertani. Pada waktu-waktu senggang menanti panen, ada yang berdagang dan tak sedikit yang menjadi nelayan, memancing dan menjala. Dan Tuhan tak henti-hentinya mengucurkan rezeki; musim buah berganti musim cengkeh, lalu menyusul musim-musim: ikan, siput, rebon, udang dan cumi.
Kampung-kampung itu memanjang dari hilir ke mudik mengikuti lekuk-liku tepi-tepi sungai berlembah sempit, Kumpulan kampung-kampung itu berupa marga dan dari beberapa marga terciptalah satu pemerintahan Kecamatan.
Kecamatan ini telah berdiri sejak zaman Belanda “Kecamatan Cukuhbalak”. Batas-batas wilayahnya:
1. Sebelah barat berbatasan dengan Batubalai/wilayah Kecamatan Kotaagung.
2. Sebelah timur dengan Lengkukai / wilayah Kecamatan Padangcermin.
3. Sebelah selatan dengan lautan
4. Sebelah utara dengan Tanjungsiom batas kecamatan Pardasuka.
Wilayah kecamatan yang merupakan daerah marga ini terdiri dari beberapa kampung. Marga merupakan daerah adat yang dikepalai oleh Kepala Adat yang menguasai beberapa suku adat (sabatin), Sabatin dikepalai oleh Penyimbang Batin yang membawahii beberapa kelompok yang lebih kecil (suku), sedang kampung dikepalai oleh Kepala Kampung selaku pemerintah Republik Indonesia, di bawah Camat.
Dalam wilayah Kecamatan Cukuhbalak terdiri dari
1. Makhga Putih, sebagai ibukota Kecamatan Cukuhbalak terletak di Putihdoh. Marga putih terdiri dari 7 kampung: Putihdoh, Tanjungbetuah, Banjakhmanis, Pampangan, Kacamakhga, Sawangbalak, dan Kakhangbuah.
2. Makhga Pakhtiwi, terdiri dari 10 kampung, yaitu: Sukapadang, Kejadian Lom/Luah, Gedung, Banjakhnegekhi, Sukakhaja, Tanjungkhaja, Tanjungjati, Waikhilau dan Tengokh.
3. Makhga Kelumbayan, terdiri dari 7 kampung: Negekhikhatu, Pekonsusuk, Pekonunggak, Penyandingan, Paku, Napal, Lengkukai.
4. Makhga Badak, hanya terdiri dari satu kampung Badak, karena penduduknya banyak berpindah ke tempat lain (ke Wayawi Kedondong dll).
5. Makhga Limau, terdiri dari 7 kampung, yaitu; Kukhipan, Padangkhatu, Banjakhagung, Tegineneng, Pekonampai, Antakhbekhak, Tanjungsiom.
Jumlah penduduk wilayah ini dalam sensus sampai dengan tahun 1978, sekitar 30155 jiwa, terdiri dari 10288 jiwa laki-laki dewasa, dan 10124 jiwa perempuan dewasa, 4980 anak laki-laki, dan 4699 anak perempuan. Jumlah kampung sebanyak 32 buah membawahi 75 kepala suku yang terdiri dari 5388 kepala keluarga. Agama penduduk asli 100% beragama Islam.
Catatan: Sejak otonomi daerah digalakkan, beberapa marga dikembangkan menjadi Kecamatan, sehingga kini telah berdiri: Kecamatan Kelumbayan, Kecamatan Limau, Kecamatan Pertiwi dan Kecamatan Pulau, dan Kecamatan Cukuhbalak yang beribukota di Putihdoh.
II. SEJARAH
Asal-usul penduduk kecamatan Cukuhbalak serta sejarah berdirinya kampung-kampung di wilayah kebandaran Lima Kecamatan Cukuhbalak adalah diawali oleh menyebarnya para bangsawan dari reruntuhan Kerajaan Besar “Skalabkhak” yang terletak di sekitar Liwa Lampung Utara, terkenal dengan sebutan “Tanohunggak”. Kerajaan Skalabkhak yang besar di Lampung di samping Kerajaan Talangbawang itu belum didapat data yang pasti kapan dan bagaimana lenyapnya. Diperkirakan adalah akibat perluasan Kerajaan Sriwijaya yang berkedudukan di
Bekas-bekas dan pengaruh kerajaan ini masih sangat berkesan di kalangan penduduk suku Lampung, karena kerajaan ini tidak lenyap begitu saja, melainkan berganti menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang berbentuk keratuan (kedatuan) sebagai sumber adat yang masih berlaku sampai sekarang di daerah Lampung.
Keratuan-keratuan yang terkenal antara lain:
1. Keratuan Puncak, ibukotanya sekitar Sangukpatcak di lingkungan ibukota Skalabkhak.
2. Keratuan Pugung, ibukotanya Pugung Mengandung Sukadana, Lampung Tengah, Lampung Selatan, dan sampai daerah-daerah sekitar Tanjungtua.
3. Keratuan Balau, ibokotanya terletak di Gunung Jualang di daerah Timur Kota Tanjungkarang.
4. Keratuan Pemanggilan Keratuan ini ibukotanya di sekitar hilir
Meskipun keturunannya tersebar dan terpencar-pencar namun mempunyai satu rumpun bahasa yaitu bahasa Lampung Pesisir. sebab itu, ada persamaan antara bahasa Komering dan bahasa Lampung Pesisir utara di Krue dan sekitarnya serta Lampung Pesisir selatan di wilayah Lampung Selatan dan sekitarnya.
Dilihat dari sejarahnya, Cukuhbalak termasuk Keratuan Pemanggilan karena terletak di daerah Teluk Semangka, begitu juga bahasanya memakai bahasa Lampung Pesisir (Lampung Pesesekh).
Dalam Kecamatan Cukuhbalak terdapat
A. MAKHGA PUTIH
Marga Putih, terdiri dua kebandaran yaitu: Kebandaran Putihdoh, dan Kebandaran Putihunggak. Putihdoh terdiri dari 7 sabatin (tiap-tiap sabatin
mempunyai pemerintahan dan hak otonom untuk mengatur kepentingan lingkungan sendiri), yaitu: Sabatin Kedaloman (Bandakh), Pekontengah, Gedung, dan Mandawasa. Sedang Putihunggak terdiri dari Sabatin: Tanjungbetuah, Banjakhmanis, dan Bandakhunggak.
Asal Marga Putihdoh ini ialah keturunan bangsawan Kabuai Mikhadatu, Skalabkhak. Yang mula-mula datang ke Putih ialah 5 saudara, yaitu:
1. Dalom Pamotokh Jagad menurunkan Pangeran Sultan Makhga selaku Kepala Adat Kebandakhan Putih.
2. Minak Sinahu menurunkan Panyimbang Suku (Luah Lawang).
3. Khaja Singganung menurunkan Raja Mangku Bandakh.
4. Tapak Gubang menurunkan Bintang Padoman
5. Tedung Pambosokh menurunkan Minak Bangsawan.
Ketika
Maka ketika kampung Putih yang masih sepi ini diserang oleh bajak-bajak laut (bajau), sehingga ada sebahagian penduduk menghindari bajau ini dengan berpindah ke pedalaman lebih jauh dari pantai, maka jadilah kampung-kampung Tanjungbetuah, Banjakhmanis, dan lain-lain. Berkali-berkali bajak laut itu menyerang dan merampas harta-harta penduduk di sepanjang pantai-pantai yang masih berpenduduk sepi itu.
Bajak-bajak itu diperkirakan bersamaan dengan datangnya Belanda ke
Karena serangan-serangan bajak laut yang berkali-kali itu maka 4 saudara yang masih tinggal di Putih bersepakat untuk memanggil Dalom Pamotokh Jagat atau Lanang Akuan yang berada di Kalianda untuk kembali ke Putih guna mempertahankan serangan dari para bajau itu.
Mereka juga sepakat untuk mengangkat Dalom Pamotokh Jagad atau Lanang Akuan untuk menjadi pimpinan adat (Kepala Adat) di Kebandakhan Putih. Dia setelah dibujuk, datang ke Putih dengan membawa pedang terhunus sedang sarung pedang itu masih ditinggal di Kalianda. Hal ini konon, yang membuktikan adanya persamaan sejarah antara keturunan Pamotokh Jagad di Kalianda dan di Putih.
Kesepakatan 4 saudara Pamotokh Jagad beserta keputusan sidang makhga oleh beberapa sabatin di lingkungan Kebandakhan Putih untuk mengangkatnya sebagai kepala adat, setelah ia dapat mengalahkan bajau-bajau itu tidaklah disambutnya dengan serta merta, melainkan ia merasa keberatan. Alasannya bahwa dalam pemerintahan itu memerlukan beberapa persyaratan yang belum ia miliki, yaitu: rumah, harta, dan isteri. Keempat saudaranya itu menyanggupi untuk memenuhi kebutuhannya itu, maka ia menetaplah di Putih sebagai Kepala Adat Kebandakhan Putih yang membawahi beberapa sabatin.
1. Sabatin Kedaloman Bandakh
Keturunan Pamotokh Jagad mempunyai kekuatan ke dalam, dalam pemerintahan lingkungan sendiri yang disebut “Sabatin Kedaloman Bandakh.” Sedang kekuatan pemerintahan keluar, kekuasaan memerintah (menguasai) seluruh kesabatinan di lingkungan Kebandakhan Putih.
Sampai dengan ditulisnya “Tulisan” ini pemegang pemerintahan Bandakh ialah Haji Bokhori Gelar Pangeran Sultan Makhga, yaitu deperkirakan keturunan (generasi) ke-12.
Keturunan Kedaloman Bandakh Keturunan Pamotokh Jagad pada gnerasi ke 2 – 4 tidak terdapat, dan untuk selanjutnya keturunan, 5 – 11 sbb:
1. Dalom Pamotokh Jagat
2. –
3. –
4. –
5. Kakhya Singadeda
6. Kakhya Singadega
7. Antowijaya
8. Kakhya Bangsakhatu
9. Batin Jayakrama
10. Pangikhan Syah Bandakh
11. Pangikhan Sultan Makhga
Keturunan Minak Sinahu (Luah Lawang)
1. Minak Sinahu
2. Raja Pangulihan Tuha
3. Kakhuhun
4. Raja Pangulihan Muda
5. Bangsa Alam
6. Minak Lanang
7. Minak Pukhba (H.A. Khauf)
8. K.H. M Yusuf
9. H. Abd. Mu’in
10. Khaja Pangulihan III
11. Khaja Simbangan
Anggota marga yang masih dalam naungan Kebandakhan Putih ini tersebar di Waylima, Pulau Tabuan dll.
Dalam pemerintahan adat ini terdapat pembagian kedudukan, fungsi dan tugas masing-masing. Sebatin Kedaloman Bandakh terdiri dari:
Suku dillom (dalam Istana)
1. Khaja Indra (Dahlan)
2. Khaja Mangkuta Alam (H. Mahmud)
3. Khadin Jaga Mulia
4. Khaja Inti Kesuma
5. Khaja Nukhsiwan (H. Rahim)
Suku Kiri
1. Khaja Simbangan (H. Makmun)
Suku Kanan
1. Khaja Mangku Bandakh (Yunus)
2. Khaja Kemala (M. Rasyid)
3. Khadin Setia (H. Muslim)
2. Sabatin Gedung
Keturunan dari penyimbang Batin Gedung ini berasal dari Lemasa Kepampang atau Tanohunggak, Skalabkhak, yaitu dari Kabuai Samenguk Tamba Kukha. Kesebatinan Gedung ini diperkirakan sejak tua-tuanya lebih dari dulu dari keturunan Kedaloman, tapi menurut keterangan dari kepala Penyimbang Batin Gedung ini baru 9 (sembilan keturunan), hal ini boleh jadi karena hitungan generasi (keturunan antara satu dengan yang lainnya) tidak sama.
Susunan Pemerintahan Adat Sabatin Gedung:
1. Kepala Panyimbang Batin: Dalom Pangikhan (H. Abu amin)
2. Suku Kiri: Khaja Kesuma (H. Zaenuddin)
3. Suku Kanan: Khaja Mangku Alam (H. Abd. Mutthalib)
3. Sabatin Pekontengah
Asal usul kesabatinan Pekontengah ini sama dengan keturunan Gedung, yaitu Kabuai Samenguk Tamba Kukha, Tanohunggak atau Skalabkhak. Sebelum sampai di Putih terlebih dahulu mampir di Sanggi (Kepaksian Sanggi Kotaagung). Yang mula-mula datang ke Putih ialah Khaja Samak dan isterinya beserta beberapa punggawa lainnya. Diperkirakan sudah 9 keturunan, sedang Pemangku jabatan “Penyimbang Batin Pekontengah sekarang ini, ialah Haji Djamauddin gelar Dalom Bangsa Khatu.”
Susunan Pemerintahan Adat Sabatin Pekontengah :
1. Kepala Panyimbang Batin: Dalom Bangsa Khatu. (H. Jamauddin)
2. Suku Kiri: Khaja Setia (Pulau Kakhangbuah), Khaja Bangsa Saka (Pulau Kakhangbuah).
3. Suku Kanan: Khaja Sepulah (H. Marzuki), Khaja Simbangan (Khuzairin)
4. Sabatin Mandawasa
Kesabatinan Mandawasa baru berdiri sekitar dua keturunan yang resmi diangkat oleh Pangikhan Bandakh. Asal usulnya tidak diperoleh data yang pasti, kemungkinan besar adalah pecahan dari Bandakh. Sabatin pertama ialah Batin Mangunangan (Haji Bashri) dan Pejabat sabatin sekarang ini ialah Batin Junjungan (Haji Damanhuri).
Susunan Pemerintahan Adat Sabatin Mandawasa :
1. Kepala Panyimbang Batin: Batin Junjungan
2. Suku Kiri: Khadin Sampukhna Jaya (Saleh)
3. Suku Kanan: Khadin Bangsa Khaja (Tirmizi)
5. Sabatin Tanjungbatuah
Asal keturunannya adalah Muakha Tanumbang Skalabkhak, Kabuai Semenguk Mikhadatu sama dengan keturunan Sabatin Kedaloman Bandakh. Yang mula-mula datang ke Putih (Tanjung Betuah) ialah 3 saudara:
1. Khaja Ngaliang Jaman menurunkan Pangikhan Pakhdasuka (Kecamatan Pakhdasuka), yaitu terletak sekitar 35 km dari Putih.
2. Makhgi Kesuma yaitu menurunkan Khaja Paksi (M. Syarifuddin) Tanjungbetuah.
3. Sang Liwat Agung, menurunkan Dalom Niti Negakha Kepala Adat Panyimbang Batin Tanjungbetuah. Sang Liwat Agung pergi ke kajenong (Jenong = Nama), untuk untuk memohon pengangkatan nama dari Kesultanan Banten. Dalam perjanjian dengan ketiga saudara di atas tidak bisa dibentuk sabatin Tanjungbetuah lain jika masih dalam satu kampung. Keluarga besar Sabatin Tanjungbetuah ini tersebar di WayLima, Pardasuka dan Gisting.
Seseorang yang termasuk keluarga Bangsawan dari Sabatin Tanjungbetuah ini bernama Tenggekh Dalom pergi ke mudik sekitar 2 kilo meter dari Tanjungbetuah, maka ia mendirikan satu kampung Banjakhmanis dan terciptalah satu Sabatin lagi yaitu Sabatin Banjakhmanis. Sedang sebelumnya terlebih dahulu berdiri Bandakh unggak di kampung Pampangan sekitar 6 km ke ulu dari Putihdoh.
Dikabarkan Bandakhunggak adalah juga berasal dari keturunan Sabatin Tanjungbetuah ini. Tapi karena akibat perpindah-pindahan penduduk maka Bandakhunggak sekarang hanya terdengar namanya, tinggal bekasnya saja, sedang pemerintahannya tidak ada. Perpindah-perpindahan penduduk Bandakhunggak konon ada yang ke Waylima dan mendirikan kampung dengan nama asalnya yaitu Pampangan, yang kini masuk Kecamatan Waylima-Kedondong.
Perkembangan Sabatin Tanjungbetuah ini makin lama tidak semakin maju (luas) melainkan semakin mundur dan menyempit. karena sebab-sebab antara lain:
1. Serangan-serangan bajau (bajak laut) yang senantiasa datang, tidak bisa di tangkap, menyebabkan berpindahnya penduduk ke mudik yang lebih jauh dari pantai.
2. Adanya suatu pembunuhan dari warga Tanjungbetuah bernama Anto Wijaya terhadap seorang penduduk kampung Putihdoh, yang dijatuhi hukuman diyat (denda atau ganti rugi), yaitu berupa tanah (sawah) milik warga Tanjungbetuah kepada keluarga yang dibunuh.
3. Tidak adanya pembinaan yang mantap terhadap anak buah sehingga banyak keturunan dari Sabatin ini yang berpindah Sabatin.
4. Adanya peraturan (perjanjian) yang tidak membolehkan berdirinya sabatin lain jika masih dalam satu kampung.
5. Perpindahan-pindahan penduduk karena adanya bajau dan meletusnya Gunung Krakatau sekitar tahun 1888, sehingga laut melonjak ke darat dan mengakibatkan abu tebal yang menghambat tumbuhnya tanaman pada beberapa tahun lamanya.
Perpindah-perpindahan itu antara lain: ke Tanjungkakhta, Kububatu, Tanjungrusia, Waykepayang, Pampangan, Waylayap (Kecamatan Waylima-Kedondong),Gisting, Kotadalom (Kecamatan Talang Padang).
Diperkirakan keturunan Sabatin Tanjungbetuah ini sekitar 12 s/d 13 keturunan. Sedang Sabatin Banjarmanis tidak diperoleh keterangan secara mendetail, hanya menurut keterangan Kepala Panyimbang Batin Tanjungbetuah adalah pecahan dari Tanjungbetuah. Namun sebahagian dari penduduk Banjakhmanis ini masih ikut Sabatin Gedung Putihdoh.
Susunan Pemerintahan Adat Sabatin Tanjungbetuah :
1. Kepala Panyimbang Batin: Dalom Nitinegara (Zubaidi)
2. Suku Kiri: Raja Wijaya (Masuni)
3. Suku Kanan: Raja Paksi A. Syarifuddin)
Keturunan Sabatin Tanjungbetuah sekarang ini tidak diperoleh keterangan yang pasti karena alasan catatan hilang, dikatakan sudah 28 keturunan, tapi keterangan ini meragukan karena kedatangan para bangsawan pendahulu itu ke Putih hampir bersamaan waktunya. Menurut keterangan dari Margi Kesuma keturunan yang ke-2, terdapat catatan dengan tulisan Lampung sebagai berikut:
1. Makhgi Kesuma
2. Adipati Sungsang Khuma
3. Ki Agung
4. Panengon Tanda Nenga
5. Khadin Makhgi
6. Kimmas Tanda Negakha
7. Khaya Besakh
8. Khadin Kutanegakha
9. Khadin Besakh
10. H. M. Said
11. Khaja Singadipati
12. Khaja Kusuma
13. Khaja Paksi
Maka diperkirakan keturunan Sabatin Tanjungbetuah ini sekitar 12 -13 generasi.
B. MAKHGA PAKHTIWI
Marga Pakhtiwi ini mempunyai 2 kebandakhan, yaitu:
1. Bandakhunggak
2. Bandakhdoh.
Bandakhunggak terdiri dari beberapa sabatin, yaitu: Sukakhaja, Kejadian Lom, Kejadian Luah, Gedung, Sukadana, dan Banjakhnegekhi.
Bandakhdoh terdri dari beberapa sabatin, yaitu: Tanjungjati, Tanjungkhaja, Sukapadang, dan Waykhilau. Kebandakhandoh belum diperoleh data tentang asal-usulnya. Sedangkan kebandakhanunggak berasal dari Tanohunggak Skalabkhak. Yang mula-mula datang ke Pakhtiwi tua-tua mereka ialah Das Dipati, Kabuai Sakha. Kini sudah 12 ketururunan. Sedang yang memegang pemerintahan adat sekarang ini ialah Haji Ahmad Syaikhu gelar Ratu Bakhlian keturunan yang kesebelas.
Keturunan dari Bedas Dipati tersebut sebagia berikut:
1. Bedas Dipati
2. Kesayih
3. Mas
4. Khadin Unang
5. Kakhya Unang Negakha
6. Minak Unang
7. Khaja Pukhba
8. Khaja Nitinegakha
9. Batin Zakaria
10. Kakhya Unang Negkhakha
11. Ratu Bakhlian (H. Ahmad Syaikhu)
12. M.Maulana Muhammad Iqbal
C. MAKHGA BADAK
Asal mula keturunan Makhga Badak ini ialah Tanohunggak, Skalabkhak, dari Kabuai SINDI Krue Utara (Olokpandan).
Tua-tua mereka mempunyai 2 saudara:
1. Yang tua Buai Bintang di Krue Lampung Utara.
2. Yang muda Buai Tengklek pergi ke daerah Teluk Semangka yaitu ada 3 saudara:
- Khaja di Bandakh (Badak)
- Batin Pankgikhan di Way Awi (Kecamatan Waylima Kedondong)
- Panjukhit Agung di Tanjung Agung (Way Awi).
Karena para bangsawan ini sifatnya mencari tempat yang baik dan luas untuk masa depan anak keturunannya, maka kampung Badak yang dianggap kurang memenuhi syarat lagi sempit itu ditinggalkan oleh sebagian besar penududuknya. Perpindahan itu berjalan sejak satu sampai dua abad yang lalu. Di rentang masa selama itu menyebabkan anak keturunan yang berada di tempat yang lebih maju seakan-akan tiada mengakui asal-muasal mereka dari Kebandakhan Badak.
Faktor-faktor yang menyebabkan perpindahan itu selain karena tanahnya sempit juga karena terjadi peristiwa meletusnya Gunung Krakatau yang menyebabkan terjadinya tsunami, air laut pasang naik ke darat. Beberapa tahun juga abu tebal masih menyelimuti tanah, yang akibatnya tidak bisa ditanami.
Perpindahan-perpindahan secara spontan juga masih terjadi, karena akibat sukarnya hubungan transportasi ke
Wilayah Makhga Badak yang berkembang menjadi beberapa Sabatin itu terletak di lain kecamatan di antaranya di Kecamatan Kedondong dan Waylima.
Sudah berapa keturunan Makhga ini, belumlah dapat diketahui secara pasti, namun menurut catatan dalam permintaan tanah kepada Jonjom diperoleh secara beli adalah pada tahun: sapeku pak likokh (atau pada tahun 1024). Agaknya keterangan ini meragukan karena berdirinya pemerintahan Sultan Hasanuddin sekitar abad ke 16 (enam belas = 1527). Namun dari sudut arti Badak berarti tua (Balak) karena tanahnya tua.
Pemerintahan Adat Makhga Badak menyebar ke pedalaman menjauhi pantai dan mendirikan pemerintahan adat sediri, di antaranya:
1. Batin Pangikhan di Pekondoh Wayawi
2. Dalom... Tanjungagung, Wayawi
3. Batin Paksi Wayawi
4. Batin Singa Makhga, Gedung Dalom Awayawi
5. Batin Panji Pekondoh, Wayawi
6. Batin Kemala Tanjungkhaja Wayawi
D. MAKHGA LIMAU
Asal Makhga Limau adalah Lamasa Kapampang, Skalabkhak. Perjalanan ke Limau melalui Krue, Waykanan, Waykhatai. Yang mula-mula datang ke Limau adalah Pangikhan Khaja Bungsu Sakti Dewa. Ia mempunyai 2 saudara, yaitu:
1. Pangikhan Kakhai Handak di Bengkulu (Propinsi Bengkulu)
2. Pangikhan Si Agul-Agul Pugungtampak (Krue Utara).
Keturunan Pangikhan Khaja Bungsu Sakti Dewa ini sampai sekarang sudah 12 genarasi. Karena book (catatan sejarahnya) terbakar dalam peristiwa kebakaran dua kali, maka yang sempat diingat hanya 7 keturunan, yaitu:
1. Pangikhan Khaja Bungsu Sakti Dewa
2. Lansak Batu.
3. Tambak Bata/Waykhatai
4. Dipati Anom
5. KHaja Paksi
6. Pangikhan Bandakhnegakha
7. Sultan Pangikhan Adat (Bunyana).
Kebandakhan ini terdiri dari 4 Panyimbang Batin, Kiri: Gununghaji, Tegineneng dan kanan Padangmanis, Sukanegekhi.
E. MAKHGA KELUMBAYAN
MaKHga Kelumbayan terdiri dari beberapa sabatin antara lain: Negekhi Kelumbayan dan Panyandingan. Keturunan negekhi Kelumbayan belum diperoleh keterangan, sedang keturunan dari Sabatin Panyandingan ialah: Kabuai Gagili, Skalabkhak, termasuk Marga Balau. Mereka mulanya datang ke Padada (Umbulan Pagokh), kemudian ke Napal. Setelah itu ke Kelumbayan. Yang mula-mula datang ialah: Tuan Khaja Akuan dan Khadin Pamuka. Sampai sekarang sudah 8 generasi, yaitu:
1. Khaja Ngukhi Ali
2. Kakhya Raksa Jaya
3. Khaja Timur (Batin Pamuka)
4. M. Ali
5. Kakhya Laksamana
6. Batin Khaja Intan
7. Pangikhan Jaya Sampurna (H. Azhari)
8. Pangeran Pimpinan Makhga (Tamrin).
III. PERPINDAHAN (HIJRAH)
Menurut data yang penulis kumpulkan bahwa kebanyakan penduduk Kebandakhanlima Cukuhbalak telah berpindah ke beberapa daerah yang kini telah berkembang menjadi beberapa kecamatan. Perpindahan itu membawa nama kampung dan juga membawa peraturan adat, bahkan di antaranya ada yang masih tunduk pada pemerintahan adat Kebandakahnlima. Bukti-bukti perpindahan itu antara lain:
1. Adanya nama-nama kampung yang sama dengan daerah asalnya, misalnya: Wayawi, di Banjar Manis – Wayawi di Kedondong.
2. Pampangan di Putih – Pampangan di Waylima.
3. Banjakhnegekhi di Pakhtiwi, di Limau dan Banjakhnegekhi di Waylima.
4. Pardasuka di Putihdoh – dan Pardasuka di Kecamatan Pardasuka,
Sekarang Pardasuka di Putih itu hanya tinggal bekasnya saja yaitu sudah menjadi hutan dan tanaman keras, karena penduduknya habis berpindah. Sejak dua dasawarsa terakhir di tempat ini telah didirikan SMP Negeri dan PLN serta mulai banyak didirikan pemukiman penduduk.
Sebab-sebab perpindahan antara lain:
1. Meletusnya Gunung Krakatau, yang mengakibatkan melonjaknya air laut ke darat (tsunami) dan abu tebal masih menyelimuti tanah pertanian, sawah, sehingga beberapa lama tak bisa ditanami.
2. Situasi tanah pertanian yang tidak memenuhi kebutuhan penduduk, terutama tanah pesawahan, karena daerah ini berbukit-bukit.
3. Perhatian Pemerintah yang kurang, terutama terhadap pembangunan perhubungan (transportasi) jalan darat yang tidak bisa dilalui kendaraan, begitu juga komunikasi dan sarana pendidikkan, sehingga banyak di antara penduduk yang berpindah ke daerah-daerah dekat jalan raya.
4. Perpindahan juga terjadi karena perkawinan, sekolah, menjadi pegawai dll.
Minggu, 15 April 2012
ASAL-USUL MARGA WAY LIMA
![]() |
| Tokoh Masyarakat Lampung di Way Lima Tahun 1897 |
Dulu penamaan wilayah ini berdasarkan nama Way (sungai)yang mengalir di daerahnya masing-masing di antaranya : Way Bulok, Way Mincang, Way, Penengahan, Way Kedondong, Way Tabak, Way Awi, Way Padang Ratu dan lain-lain. Tetapi sejak Belanda Menetapkan nama-nama Kemargaan di Lampung sekitar tahun 1930-an untuk membentuk wilayah pemerintahan berbentuk "Negeri", maka diambillah nama "Way Lima" yang merujuk dari nama lima Way (sungai) yang airnya tidak surut sepanjang tahun walaupun kemarau panjang. Nama sungai-sungai tersebut antara lain adalah WAY BULOK, WAY MINCANG, WAY KEDONDONG, WAY TABAK dan WAY AWI.
Asal-usul nenek moyang lampung peminggir di daerah Way Lima adalah berasal dari Kerajaan Sekala Begha Kuno (Lamasa Kapampang, Tanoh Unggak) di sekitar belalau Lampung Barat yang dikenal dengan Buay Tumi. Setelah Islam masuk ke Sekala Begha kuno, maka penduduk belalau melakukan migrasi ke Batu Brak lalu ke Krui. Di Krui mereka menempati wilayah seperti Pedada, laay, Way Sindi, Bandar dan Tenumbang. Karena daerah Krui beberapa kali di serang oleh Bajak Laut (Bajau/Lanum) yang datang dari arah Barat (Lautan) dan Utara (Palembang), maka sebagian besar dari penduduknya memilih melakukan migrasi ke Teluk Semaka terutama Sekitar Kota Agung bagian Timur sampai daerah Cukuh Balak sekarang. Sebagian keturunannya meneruskan perjalanan dari Cukuh Balak ke Teluk Lampung, Way Handak (Darah Putih) dan Labuhan Maringgai (Melinting). Mungkin bergabung dengan keturunan dari buay-buay lain yang lebih dahulu ada di sana.
Terdapat Lima Kelompok yang mendirikan sistem kepunyimbangan adat Sai Batin di daerah Cukuh Balak yang dikenal dengan "Bandakh". Karena terdapat Lima Kebandakhan tersebut, maka dikenal dengan "BANDAKH LIMA" diantaranya Seputih, Sebadak, Selimau, Sepertiwi dan Sekelumbayan. Didalam kebandaran terdapat beberapa Buay (Kelompok Keturunan) seperti : SEPUTIH (Buay Semenguk Humakhadatu Muara Way Tenumbang, Buay Semenguk Tamba Kukha Mandol, Buay Semenguk Hulu Dalung, Buay Semenguk Hulu Lutung, Buay Akhong Darah Putih , Buay Pematu Penggawa Lima dan Buay Pemuka), SEBADAK (Buay Tengklek Mesindi Olok Pandan), SELIMAU (Buay Tungau Pugung, Buay Babok Pugung dan Buay Khandau Pugung), SEPERTIWI (Buay Sekha/Sikha, Buay Samba dan Buay Aji Darah Putih) dan SEKELUMBAYAN (Buay Betawang, Buay Gagili Balau dan Buay Bakhuga). Kedatangan kelompok buay-buay tersebut tidak serta merta, tetapi datang bertahap sehingga kebandarannya terdapat dua : Bandakh Unggak (Hulu) dan Bandakh Doh (Hilir).
Sebagian besar keturunan Bandar Unggak banyak membuka daerah di pedalaman menjauhi pesisir laut, sehingga daerah-daerah yang baru tersebut menjadi cikal-bakal daerah yang sekarang dinamakan Way Lima, Gunung Alif dan Talang Padang. Terlebih sejak peristiwa Gunung krakatau meletus Tahun 1883, memaksa sebagian besar keturunannya pindah ke daerah yang telah di rintis tersebut. Maka lama kelamaan daerah yang baru tersebut semakin banyak penduduknya dan lebih berkembang di bandingkan daerah di pesisir pantai di Teluk Semaka bagian Timur karena dilalui jalan raya yang menghubungkan Teluk Betung dan Kota Agung yang dibangun oleh Belanda. Masa keemasan "Way Lima" terjadi sekitar tahun 1960-an sampai tahun 1980-an ketika hasil perkebunan dan pertanian menjadi mata pencarian utama dari penduduknya diantaranya cengkeh, lada, kopi dan padi yang didukung oleh adanya Pelabuhan Hasil Bumi di Teluk Betung. Diberitakan bahwa dulu harga 1 Kg Cengkeh seharga 1 Gram emas. Sehingga penduduk Wilayah Marga Way Lima menjadi salah satu penduduk Lampung yang terkaya waktu itu.
Kamis, 12 Januari 2012
PAPANCOKH KEJUNG : SILSILAH PINDAH KHANG
Ganta ganti pubalah
Sekedakh bucakhita
Ku bacako silsilah
Si wat di sikindua.
Silsilah pindah –pindah
Umpu Adam khik Hawa
Mid kabelah-kabelah
Sampai ya mit Way Lima.
Nukhut cakhita tuha
Asal mula ni Lampung
Cakhita bucakhita
Asal jak ............
Sanghiyang Sakti Nyata
Takhu di tanoh Pugung
Ya wat ni pitu Khaja.
Khaja atawa Umpu
Unyin ni sakti-sakti
Putabokh tian pitu
Haga nyepok negekhi.
Sai jak tian pitu
Penuh yakin didikhi
Mula ya wat nunggu
Umpu si nomor pak
Umpu Kesaktian Jitu
Takhu di tanoh unggak
Hinji si jadi Khatu
Di Kuala Sakha
Sampai ya nganak ngumpu
Kajong ni gila khua.
Sai anak ni si tuha
Sebelas anak si ngukha
Tiyan putabokh mena
Pindah mit dipa-dipa
Wat munggak wat mid liba.
Si Halom anak nomor pak
Jalma gagah pakhkasa
Tungga anak tuha ni Bapak
Si nomor telu ............
Nomor lima ya Salagai
Kaenom gelakh Sekha
Tiyan nukhun ko buay
Tukhunan Lampung ganta
Jahik mak katinggalan
Nomor walu ni Cumbu
Khasau, Khukhing khik Bamban
Liyoh si paling bungsu.
Halom wat anak telu
Samenguk Hulu Dalung
Hena si nomor satu
Galah pelok dapok disambung
Khena sakti ni ilmu
Samenguk Tamba Kukha
Dapok ngubati kuyang
Hena si nomor dua
Jalma buhati lapang
Samenguk Tundun Belang
Jalma si nalom cawa
Kacacah khik kabilang
Hena si nomor tiga.
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)