Selamat Datang Pengunjung di Blog Kemuakhian Bandakh Lima - Way Lima...!

Minggu, 25 Maret 2018

ASAL MULA KEBANDAKHAN PUTIH CUKUH BALAK


Awal mula Sekala Bekhak disebut Negeri Kuala Sakha. Penguasa di negeri tersebut dikenal dengan Ratu Kuala Sakha. Sedangkan orang di luar Negeri Kuala Sakha sering menyebut daerah tersebut sebagai Pesagi, dikarenakan negeri tersebut terletak di bawah kaki Gunung Pesagi. Sehingga penguasanya disebut Ratu Pesagi. Maka setelah anak keturunan Ratu Kuala Sakha atau Ratu Pesagi beranak pinak dan mendirikan sebuah keratuan di Way Saka Selabung yang dikenal dengan Keratuan Pemanggilan. Dizaman keturunan Ratu Kuala Sakha yang masih menetap di Pesagi yaitu Puyang Kuasa Buay Semenguk, kedatangan keturunan saudara mereka dari Keratuan Pemanggilan. Dikarenakan wilayah Way Saka Selabung ketika itu sedang menghadapi serangan Bajak Laut (Bajau) dari negeri Cina. Maka dua kelompok keturunan (Buay) dari Ratu Kuala Sakha di Pesagi yaitu Buay Semenguk dan Buay Nuwat, serta dua kelompok keturunan (Buay) dari Ratu Pemanggilan dari Way Saka Selabung yaitu Buay Bulan dan Buay Aji membentuk perserikatan empat Buay yang dikenal dengan PAKSI PAK TONGKOK PEDANG. 

Ketika Paksi Pak Tongkok Pedang di Sekala Bekhak membubarkan diri sekitar Tahun 1420 M, keturunannya pindah ke Seliba Haji di Sumatera Selatan. Sebagian keturunan Ratu Pemanggilan di Seliba Haji pindah ke daerah Krui yang terdiri dari empat Buay yaitu Buay Semenguk, Buay Nuwat, Buay Bulan dan Buay Aji. Dari Krui sebagian keturunan Ratu Pemanggilan melanjutkan perjalanan ke Teluk Semaka. Sedangkan sebagian lainnya tetap di Krui. Keturunan Ratu Pemanggilan yang membuka permukiman di Teluk Semaka pertama kali adalah Umpu Benawang. Maka berdirilah Bandakh Tua yang bernama Bandakh Benawang. Sedangkan kelompok kerabat Umpu Benawang sebagian pindah ke wilayah pedalaman menuju Way Rarem dan menetap disana. Kelak kerabat Umpu Benawang ini mendapat pengaruh dari keturunan Ratu di Puncak dan mendirikan Abung Siwo Mego (Abung Sembilan Marga).

Bandakh Benawang ketika itu menjadi Bandakh yang maju, sehingga keturunannya banyak yang memperluas wilayah ke sisi Timur Teluk Semaka. Mereka mendirikan permukiman baru yang disebut Cukuh Balak yaitu sekitar Tahun 1500 M. Salah satu kampung di Cukuh Balak bernama Putih yang terdapat di Muara Way Putih Cukuh Balak. Yang pertama menempati Kampung Putih adalah Buay Semenguk Jurai Tambakukha. Kampung Putih ketika itu maju dan berkembang, namun ancaman yang datang dari arah laut yaitu serangan Bajak Laut (Bajau). Bajau merampas harta dan banyak membunuh penduduk Kampung Putih. Sehingga penduduk Kampung Putih banyak yang pindah dan membuka permukiman baru di daerah Hulu Way Putih. Nama Kampung yang mereka dirikan di Hulu Way Putih itu adalah Kampung Pampangan.

Pada suatu hari (sekitar Tahun 1600 M) di Kampung Putih kedatangan saudara mereka dari Krui yaitu dari Kelompok Keturunan (Buay) Semenguk Jurai Makhadatu atau Semenguk Khatu Bedarah Putih. Yang terdiri dari 5 (lima) orang yaitu :
1. DALOM PAMOTOKH JAGAD (Putra dari DEMANG PETIRIN di Kampung Negeri, Krui)
2. KHAJA SEMANGGI
3. KHADIN MULIA
4. MINAK SENAWUNG
5. TEDUNG PEMBOSOKH

Mereka beberapa lama tinggal di Kampung Putih, namun DALOM PAMOTOKH JAGAD melanjutkan perjalanan menuju ke Kalianda. Beliau menikah dan menetap disana, dan mempunyai satu orang anak laki-laki. Namun setelah itu terdengar kabar bahwa Kampung Putih diserang Bajau kembali, dan empat saudara menjemput Dalom Pamotokh Jagad untuk kembali ke Kampung Putih di Cukuh Balak guna membantu mereka melawan Bajau. Dengan sangat tergesa-gesa, beliau menuju ke Kampung Putih Cukuh Balak dengan membawa pedang terhunus sedangkan sarungnya masih tertinggal di Kalianda. Sesampainya di Kampung Putih, beliau bersama keempat saudaranya dan penduduk Kampung Putih yang masih bertahan berjuang dalam peperangan mengusir Bajau. Berkat kesaktian Dalom Pamotokh Jagad dan keempat saudaranya berhasil mengusir Bajau di Teluk Semaka. Karena keberhasilan mengusir Bajau di Teluk Semaka tersebut, para tokoh tetua dari beberapa Buay di Kampung Putih dan Kampung Pampangan mengusulkan agar beliau diangkat menjadi Pemimpin mereka dan mendirikan Kebandakhan baru di luar Kebandakhan Tua (Bandakh Benawang). Maka sejak itu DALOM PAMOTOKH JAGAD diangkat menjadi Kepala Adat KEBANDAKHAN PUTIH dengan nama Kampung Adatnya yaitu KEDALOMAN. Karena Kampung Pampangan merupakan keturunan yang pertama yang datang ke PUTIH, maka diambil Jurai keturunan yang tua sebagai perwakilan di Kebandakhan dan menjadi Khaja Suku Kanan.

Adapun ketika itu susunan Kesebatinan KEBANDAKHAN PUTIH adalah :
1. SAIBATIN BANDAKH  :  DALOM PAMOTOKH JAGAD
2. KHAJA SUKU KANAN :  KHAJA SINGGANUNG (Kampung Pampangan)
3. KHAJA SUKU KIKHI    :  MINAK SENAWUNG (Suku Luwah Lawang)
4. PENETOP EMBOKH 1  :  KHAJA SEMANGGI
5. PENETOP EMBOKH 2  :  KHADIN MULIA

Selain itu berdiri KESEBATINAN bawahan (PUNGGAWA) dari KEBANDAKHAN PUTIH diantaranya yaitu :
1. KESEBATIN BANDAKH UNGGAK (Kampung Pampangan)
2. KESEBATINAN GEDUNG
3. KESEBATINAN TANJUNG BETUAH
4. KESEBATINAN BANJAKH MANIS
5. KESEBATINAN PEKON TENGAH

Hingga tahun 1800 M, keturunan dari kelima saudara tersebut sudah 6 Generasi. Pada saat itu yang bertugas mengamankan KEBANDAKHAN PUTIH yakni keturunan dari KHAJA SEMANGGI yang bernama IWATBATIN. Ketika itu daerah PUTIH masih mendapat serangan Bajau, namun masih tetap bisa diamankan oleh IWATBATIN. Hingga tahun 1883 M, terjadi letusan Gunung Krakatau yang menyebabkan terjadinya Tsunami di perairan laut Teluk Semaka dan hujan abu vulkanik. Sehingga wilayah pertanian di PUTIH banyak tertimbun abu vulkanik Gunung Krakatau. Hal tersebut membuat putra-putri dari IWATBATIN sebagian besar pindah ke Way Lima.

Adapun putra-putri IWATBATIN berjumlah 6 (Enam) orang yaitu :
1. MINAK SUKU KHAYA (Tetap tinggal di PUTIHDOH)
2. TINGGI MAS                  
3. BAHONGON (Pr)
4. Hi. JALIL
5. Hi. M. YASIN
6. ........................................ (Tinggal di Pulau Tabuhan)

Keempat putra-putri IWATBATIN yang pindah ke Way Lima yaitu TINGGI MAS, BAHONGON (Pr), Hi. JALIL dan Hi. M. YASIN. Mereka menetap dan mendirikan Kampung Way Tabak di Way Lima yang sekarang bernama TEBA JAWA Kecamatan KEDONDONG. Dan pada tahun 1994, keturunan IWATBATIN di Way Lima mendirikan Kesebatinan baru yang diangkat oleh PANGIKHAN SUNTAN MAKHGA (Saibatin Bandakh Putih) menjadi Punggawa Kebandakhan Putih yaitu Kesebatinan Lubuk Damai.

Hingga Tahun 1994 M, telah berdiri 8 (Delapan) KESEBATINAN PUNGGAWA KEBANDAKHAN PUTIH diantaranya yaitu :
1. KESEBATIN BANDAKH UNGGAK     (Pampangan, Cukuh Balak)
2. KESEBATINAN GEDUNG                     (Putihdoh, Cukuh Balak)
3. KESEBATINAN TANJUNG BETUAH  (Tanjung Betuah, Cukuh Balak)
4. KESEBATINAN BANJAKH MANIS     (Banjakh Manis, Cukuh Balak)
5. KESEBATINAN PEKON TENGAH       (Putihdoh, Cukuh Balak)
6. KESEBATINAN MANDAWASA            (Putihdoh, Cukuh Balak)
7. KESEBATINAN SUKAMAKHGA         (Kakhang Buah, Pulau Tabuan - Cukuh Balak)
8. KESEBATINAN LUBUK DAMAI         (Teba Jawa, Kedondong)

Demikian Sejarah Asal Mula Kebandakhan Putih Cukuh Balak, semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua sebagai rujukan sejarah asal usul nenek moyang kita khususnya SEPUTIH (BANDAKH/MAKHGA PUTIH), baik yang ada di Cukuh Balak maupun di Waylima dan daerah lainnya. Tabik

Sumber : 1. Catatan Keturunan Buay Semenguk - Keratuan Pemanggilan
                2. Pangikhan Suntan Makhga (Akan Hi. Bukhori) di Pekondoh Cukuh Balak
                3. Catatan dan Silsilah Keturunan Iwatbatin di Way Lima